Thursday, September 20, 2012

Fanfic: Love.

Title: Love.
Author: -Keka-
Fandom: Alice Nine
Genre: BL Romance
Rating: PG15+
Note: tadinya cuma pengen nulis Flash Fic, tapi kok keterusan jadi agak panjang ya...? =3=

Selamat membaca.


* * *

Aku berpikir banyak. Ya banyak sekali. Lebih dari yang mampu aku pikirkan. Aku tidak mengerti. Seharusnya ini hal yang sepele, tapi aku tidak bisa berhenti untuk terus memikirkannya.

Pria itu... ah, aku mendesah pelan. Memikirkannya saja sudah membuatku kehilangan energi yang lebih banyak. Lihatlah betapa kurusnya aku saat ini. Tapi tidak juga sih. Setidaknya aku tidak sekurus Saga. Iya temanku satu itu, aku membayangkannya seperti seorang supermodel. Wanita. Bukan pria. Walau sayangnya dia adalah seorang pria dengan kemolekan wanita dan ketampanan pria sekaligus.


Aku pikir dia seorang gay. Banyak wanita yang mendekatinya, tapi dia memperlakukan mereka sama. Tersenyum dingin seperti membangun tembok es tinggi di sekelilingnya. Memaksa wanita-wanita itu untuk mundur teratur, atau hanya diam di tempat menunggu tembok es itu mencair dengan sendirinya.

Tapi aku rasa, butuh ratusan atau bahkan ribuan tahun—jika aku tidak terlalu melebih-lebihkan, agar tembok es itu mencair. Atau tidak akan pernah cair.

Ada seseorang yang dicintainya lebih dari caranya mencintai diri sendiri. Aku selalu berpikir Saga hanya terlalu mencintai dirinya. Seorang gay. Tidak menyukai wanita, tapi tidak mau terlihat menyakiti mereka. Karena itu dia ramah, tapi dingin. Seperti batu es yang menyakitkan saat kau menggenggamnya erat-erat, tapi menyenangkan saat kau mencampurkannya dengan segelas air sirup.

Ya, aku salah tentang Saga. Dia tidak benar-benar mencintai dirinya. Bukan seorang gay. Bukan juga seseorang yang benar-benar dingin.

Dia hanya menjaga hatinya untuk satu orang. Wanita. Tidak secantik wanita-wanita yang mendekatinya. Tapi wanita itu punya tatapan mata yang membuatmu ingin selalu menjaganya di sisimu.

Wanita itu pernah berkata padaku, Saga tidak pernah berkata betapa dia sangat mencintainya. Tidak pernah berkata, betapa dia sangat merindukannya. Tidak juga pernah berkata, betapa dia sangat menginginkan wanita itu untuk selalu berada di sisinya. Tapi dia menunjukkan hal itu. Lebih dari apapun.

Tidak peduli seberapa banyak ucapan cinta yang kau ungkapkan untuk pasanganmu, tapi dia akan lebih tersanjung saat tahu kau telah berkata atau menunjukkan sikap kepada dunia bahwa betapa kau sangat mencintai atau merindukannya.

Aku. Ya aku. Mungkin tidak seberuntung wanita itu. Aku iri. Ya aku iri. Terserah apa katamu.

Pria itu, masih aku menatap padanya. Pria bertubuh tinggi tegap yang menekuni gitar di tangan dan pangkuannya. Aku telah banyak mendengar dia berkata betapa dia sangat merindukan dan mencintaiku lebih dari apapun.

Tapi aku tahu, tidak ada seorang pun yang tahu hal itu selain diriku sendiri. Bahkan hubungan kami, mungkin tidak banyak orang yang mengetahuinya. Bahkan orang tuanya. Meski mereka tahu anak laki-laki mereka yang tampan tidak bisa menyukai hal-hal normal layaknya bagaimana kodrat seorang pria, toh kedua orang tua itu menerima dengan ikhlas. Tapi mereka tidak tahu dengan pria bagaimana anaknya berhubungan. Orang tua malang itu hanya tahu, anaknya berhubungan dengan pria bernama Kazamasa.

Apa yang salah?

Mungkin dia malu menunjukkan? Atau aku terlalu tidak pantas?

Kuseret tubuhku meninggalkan ruangan. Kecewa saat mengetahui dia bahkan tidak memindahkan pandangan matanya dari gitar yang masih terus ditekuninya.

Kutatap diriku di depan sebuah cermin besar. Menatap wajahku yang dihiasi make-up tipis. Bukan seperti yang kau bayangkan. Sangat tipis. Ini hanyalah make-up yang masih tertinggal seusai pemotretan. Berkali-kali tanganku mengelus permukaan halus wajahku. Ini seperti sebuah petaka. Pikirku.

Aku ingat ibuku pernah menampar wajahku semata karena wajahku terlalu cantik untuk ukuran anak laki-laki.

Aku tidak pernah bisa memaafkan diriku karena tidak bisa membencinya walau wanita itu terus berkata betapa sangat menyesal karena telah melahirkanku ke dunia.

Apa yang salah?

Lagi-lagi aku terus menanyakan hal yang sama.

Jika wajah ini tidak seperti ini, apakah pria bertubuh tinggi tegap itu akan mengatakan hal sama yang terus diucapkannya saat menatapku?

"Shou, aku mencintaimu..."

Ucapan yang membuatku berbunga-bunga. Namun sering membuatku bertanya-tanya. Apakah itu hal yang sesungguhnya? Atau hanya ucapan yang manis untuk membahagiakanku sesaat dengan kepalsuannya.

Dia hanya ingin bermain-main denganku. Mungkinkah seperti itu? Aku tidak bisa menebak-nebak. Ini memang terlihat seperti sebuah permainan. Perasaan manusia yang terbungkus di dasar hatinya seperti sebuah kotak pandora yang menyimpan banyak hal tidak terduga. Mungkin kau akan menemukan kenyataan pahit di sana. Sangat buruk sampai kau menyesal karena telah mengetahuinya. Tapi di sana juga tertinggal sebuah harapan. Satu hal yang membuat manusia terus memiliki impian. Aku berharap menemukan alasan tepat yang bisa kujadikan sebuah harapan agar terus dapat bersamanya. Pikiranku yang tersita untuk pria itu membuatku cemas berlebihan. Itu tidak adil bukan? Saat aku sudah tulus mencintainya, lantas dia hanya menganggapnya main-main.

Apa yang salah? Apa yang kurang?

Mungkinkah pria itu akan lebih bahagia dan menganggapku ada jika aku menjadi seperti apa yang diinginkannya.

"Shou, kau tahu..."

"Humm.." aku tidak terlalu memperhatikannya karena sibuk merangkai lirik-lirik yang tepat.

"Mungkin lebih bagus kalau kau terlahir sebagai wanita."

Tanganku berhenti menulis, pena itu bergetar. Aku tersenyum, "Kenapa?" tanyaku berusaha bersikap biasa. Menganggap itu tidak lebih dari hal yang membuatku ingin tertawa, meski aku sakit mendengarnya.

"Entahlah," pria itu pergi begitu saja. Meninggalkan satu tanda tanya besar di kepalaku. Ah, sikapnya itu kadang membuatku kesal. Terkadang pertanyaanku hanya seperti angin lalu yang tidak perlu dia gubris. Tidak penting. Ya, aku tahu.

Kepercayaan diriku hilang. Aku merasa tidak berharga. Terlalu tidak sempurna. Aku sibuk menebak-nebak bagaimana aku harus bersikap dan berpenampilan agar terlihat sempurna di matanya.

Aku lelah. Mungkin jika aku terlahir sebagai seorang wanita, pria itu akan lebih menghargaiku?

"Apa!? Itu bodoh sekali, Shou!" Hiroto memukul kepalaku. Berani sekali dia. Aku ingin menendangnya. Tapi tidak kulakukan karena dia benar. Aku bodoh.

"Hargai dirimu apa adanya, maka orang lain akan memberi penghargaan yang sama. Kau punya banyak hal yang membuat orang lain, termasuk aku, iri terhadapmu. Kau tidak akan mati hanya karena orang yang kau cintai tidak mencintaimu apa adanya. Tapi kau akan seperti orang hidup yang sudah mati bila kau kehilangan jati dirimu hanya karena hal semu bernama cinta."

Ah, sejak kapan bocah itu bisa berbicara benar seperti ini?

Terdiam. Aku menatapnya dengan mata yang menyipit. Tidak benar-benar menyipit, karena sebagai orang Jepang, ukuran mataku tergolong besar. Hiroto yang katanya iri terhadapku itu kadang ingin sekali menukar matanya dengan mataku.

Aku bernafas pelan-pelan dalam diam. Hiroto benar. Mengubah diriku menjadi sesuatu yang berbeda dengan diriku saat ini tidak akan mengubah apapun. Tidak perlu menjadi hal yang berbeda untuk membuat seseorang mencintaimu, Shou. Karena cinta yang kau dapat hanyalah cinta semu. Jika seseorang tidak menginginkanmu yang seperti ini, maka kau juga tidak membutuhkannya.

Pria itu memelukku tiba-tiba dari belakang. Aku ceroboh karena tidak menyadari kemunculannya. Ku angkat kepalaku menatap datarnya cermin bening yang mereflesikan bayangan kami.

"Kau sedang apa?" tanyanya mesra.

Ragu-ragu aku menjawab, "Membayangkan diriku sebagai wanita." Bayangan diriku memakai gaun berpotongan kerah yang rendah, dada penuh dan sepatu dengan hak yang runcing, melintas dengan sangat mengerikan di kepalaku.

Pria itu tersenyum. Mengacak pelan rambutku yang saat ini berwarna hitam legam—hal yang sangat jarang terjadi pada rambutku, "Itu konyol, Shou." Ujarnya pelan.

"Apa yang konyol? Kau tidak suka?"

"Entahlah, tapi aku tidak bisa membayangkannya."

"Kalau begitu... bisakah kau jawab alasanmu menyukaiku?"

Pria itu menggeleng, "Aku tidak tahu."

"Terlalu sulit menjawabnya?"

"Bukan...

hanya saja aku tidak punya jawabannya."

"..."

Pria yang tidak punya pendirian. Pikirku, kesal. Sepertinya aku telah salah mengambil satu keputusan dalam hidup. Aku akan meninggalkannya walau itu berat. Kulepaskan perlahan tangan besarnya yang masih merangkul tubuhku. Kubalik tubuhku. Aku tidak yakin mampu membalas tatapan matanya yang tajam itu jika ia menatapku. Terlalu sulit.

"Tora..." suaraku parau menyebut namanya yang gagah. Dan senyum itu masih tertinggal di sana. Senyum yang selalu menghangatkanku, membuatku kaku saat itu juga. Aku mengawali ketidaknyamanan itu dengan bertanya. "Kau sedih jika aku tidak mencintaimu?"

Aku berharap dia mengangguk. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Sial.

Putus asa, aku kembali bertanya, "Bagaimana jika aku meninggalkanmu? Kau sedih?"

Kali ini mengangguklah agar aku menemukan harapan dalam kotak pandora yang tertanam di dasar hatimu.

Dan dia menggeleng.
Baiklah, ini lebih sial daripada saat kau ada di panggung besar dengan ribuan penonton, ingin bernyanyi untuk mereka, tapi tiba-tiba suaramu hilang begitu saja.

Aku bersiap pergi meninggalkannya. Tidak ada alasan bagiku untuk tetap tinggal. Harapan itu tidak pernah ada. Tora memang tidak pernah menginginkanku dalam hidupnya. Mungkin dengan aku yang mundur, kehidupan kami berdua akan jauh lebih baik. Ku hindari tatapan itu dengan palingan wajah. Ku seret langkahku dengan berat. Entah merasa beruntung atau malah sebaliknya, aku tidak bisa menangis saat aku sedih, meski aku ingin menangis karena kecewa. Iya, itu cengeng.

Tangan itu menahan kepergianku. Aku menatapnya dengan nanar, seperti menatap penjahat paling kejam yang sama sekali tidak menghargai arti kebersamaan kami selama ini.

"Jangan pergi."

"Kenapa?" tanyaku menantang. "Kau tidak sedih jika aku meninggalkanmu kan!?"

"Iya."

"Lalu?"

"Tapi aku sangat sedih melihatmu tidak bahagia."

Kutatap bingung kedua matanya. Aku tidak mengerti pria ini. Sungguh.

"Aku tidak peduli kau tidak mencintaiku. Tidak peduli kau akan pergi meninggalkanku. Atau jika kau membenciku sekalipun. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi meninggalkanku dengan ketidakbahagiaan itu. Aku tahu akan susah sekali bagiku untuk memahamimu, Shou. Tapi jika keberadaanku membuatmu bahagia, aku tidak akan pernah rela membiarkanmu pergi. Sebaliknya jika kau tersenyum bahagia dan memintaku untuk meninggalkanmu, aku akan melakukannya. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum, tidak tahu bagaimana caranya. Aku juga tidak tahu alasan mengapa aku menyukaimu. Menurutmu... apakah harus ada alasan bagi seseorang untuk mencintai orang lain?"

"Tapi kau tidak pernah menunjukkan itu? Tidak di depan orang lain."

Tora memegang kedua pundakku, menatapku lebih dalam dengan tatapan lemah yang tidak bisa aku gambarkan.

"Itu karena aku masih belum merasa pantas untuk dirimu! Kau sangat berharga, sedangkan aku... aku bukan apa-apa, Shou. Jika orang-orang tahu kau menjalin hubungan denganku, apa yang akan mereka pikirkan tentangmu, tentang kita? Aku tidak peduli mereka menghinaku, tapi aku tidak mau mereka merendahkanmu!"

Kutepis kedua tangannya dari pundakku. "Lupakan saja. Kau terlalu pengecut untuk mengakui hubungan kita."

"SHOU!"

Tidak ku gubris panggilan lantangnya. Aku tahu dia menginginkan aku kembali, namun aku tidak berpaling dan terus melangkahkan kakiku buru-buru meninggalkannya. Mungkin aku akan menyerah seandainya dia mengejarku dan meyakinkan bahwa sungguh dia mencintaiku. Tapi Tora tidak melakukan itu.

Aku menyerah dan pasrah atas berakhirnya hubungan ini.

* * *

Dua tahun kemudian...

Tidak ada yang berubah. Aku dan dia masih bekerja di bawah bendera yang sama. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Berjam-jam di studio rekaman, latihan, pemotretan, wawancara, syuting, live, promosi, atau sekedar menghabiskan waktu minum-minum dengan teman kami yang lain.

Tapi jalan yang kami pilih untuk hidup sudah berbeda. Aku memilih jalan yang seharusnya aku tempuh. Membuka pintu hatiku untuk seorang wanita. Cantik. Semua orang selalu memujinya seperti itu. Bahkan Tora sekalipun.

Lebih dari itu, aku menyayanginya. Meski aku tidak bisa membohongi diri sendiri, bahwa aku masih menyisakan cinta untuk Tora di hatiku. Dan kami sama-sama tahu, bahwa di hatinya masih banyak cinta yang dia simpan untukku.

Tapi aku tidak akan pernah kembali padanya. Aku akan mencoba untuk terus bahagia dengan jalan hidup yang aku pilih. Aku berjanji padamu, Tora...

Aku akan bahagia.

Semata karena aku tidak ingin melihat orang yang mencintaiku bersedih karena ketidakbahagianku.

Hari ini, esok, dan seterusnya...
Aku akan selalu tersenyum untukmu dan untuk kebahagiaan kita.

* * *

Love. finish.


Ps:
Keka bingung dengan judulnya. Karena itu Keka memilih judul yang sangat sering menjadi judul yaitu Love. (pake titik) karena Keka ingin menekankan bahwa cinta hanyalah cinta titik. Tidak memakai koma untuk embel-embel atau alasan, tidak memakai tanda tanya untuk mempertanyakan alasannya, tidak pula memakai tanda seru untuk menegaskannya. Hanya sebuah titik yang menyatakan bahwa jika sudah cinta, kita tidak perlu lagi alasan (embel-embel), pertanyaan, atau penegasan. :)

2 comments:

anggong said...

"....membuka hatiku untuk seorangw anita. Cantik."



ohok.... *benerin kerah*

Kyrie Keka said...

Itu Keka maksudnya XD *diseret om Tsu*

Post a Comment